Rabu, 30 Mei 2012

CONTOH PROPOSAL PTK MATEMATIKA SD KELAS IV


A.    JUDUL PENELITIAN
Penggunaan Media Lidi Untuk Meningkatkan Keterampilan Siswa Pada Penjumlahan Bilangan Bulat Di Kelas IV SD Negeri 1 Jungutan

B.     BIDANG KAJIAN
Mata pelajaran       : Matematika           
Bidang kajian        : Pembelajaran inovatif

C.  LATAR  BELAKANG  MASALAH
            Salah  satu  permasalahan  yang  menyangkut  pengelolaan  proses  belajar  mengajar  mata  pelajaran  matematika di  SD  adalah  kurangnya  pengetahuan  bagi  guru  SD,  serta  terbatasnya  dana  dan  sarana  tentang  bagaimana  cara  membuat  dan  menggunakan  media/alat  peraga  dalam  pembelajaran  matematika. Di  sisi  lain  pentingnya  media/alat  peraga  dalam  pembelajaran  matematika  telah  diakui  oleh  semua  jajaran  pengelola  pendidikan  dan  para  ahli  pendidikan.
            Kompetensi  guru  dalam  pelaksanaan  interaksi  belajar  mengajar  mempunyai  indikator,  mampu  membuka  pelajaran,  mampu  menyajikan  materi,  mampu  menggunakan  metode/strategi,  mampu  menggunakan  media/  alat  peraga,  mampu  menggunakan  bahasa  yang  komutatif,  mampu  memotivasi  siswa,  mampu  mengorganisasi  kegiatan,  mampu  menyimpulkan  pelajaran,  mampu  memberikan  umpan  balik,  mampu  melaksanakan  penilaian,  dan  mampu  menggunakan  waktu. (Departemen  Pendidikan  Nasional, 2004 ;  13 – 14).
            Agar  pembelajaran  yang  akan  diberikan  oleh  guru  kepada  siswa  berhasil  sesuai  dengan  kompetensi  dasar,  maka  guru  diharapkan  dapat  menyusun  langkah- langkah  pengembangan  silabus  pembelajaran,  diantaranya  merumuskan  pengalaman  belajar  siswa  meliputi; 1). Pengalaman  belajar  merupakan  kegiatan  fisik  dan  mental  yang  perlu  dilakukan  siswa  dalam  berinteraksi  dengan  sumber  belajar  dalam  rangka  mencapai  kompetensi  dasar  dan  standar  kompetensi. 2). Pengalaman  belajar  dapat  dilaksanakan  di  dalam  dan  di  luar  kelas. Kegiatan  yang  diberikan  sebagai  pengalaman  belajar  siswa  harus  berorientasi agar  siswa  aktif  dalam  belajar,  iklim  belajar  menyenangkan,  fungsi  guru  lebih  ditekankan  sebagai  fasilitator  dari  pada  sebagai  pemberi  informasi,  siswa  terbiasa  mencari  sendiri  informasi    (dengan  bimbingan  guru)  dari berbagai  sumber,  siswa  dibekali  dengan  kecakapan  hidup  dan  dibiasakan  memecahkan  permasalahan  yang  kontektual  yaitu  terkait  dengan  lingkungan  (nyata  maupun  maya) dari  siswa.  3).  Pada  hakekatnya  pengalaman  belajar  memberikan  pengalaman  kepada  siswa  untuk  menguasai  kompetensi  dasar  secara  ilmiah  dan  ditinjau  dari  dimensi  kompetensi  yang  ingin  dicapai  pengalaman   belajar  meliputi  pengalaman  untuk  mencapei  kompetensi  pada  ranah  kognitif,  psikomotorik,  dan  afektif.  Selanjutnya  pengalaman  belajar  dirumuskan  dengan  kata  kerja  yang  opersional.(Pengembangan  Silabus  dan  Penilaian  Mata  Pelajaran  Matematika, Dit. PMU, Ditjen  Dikdsmen, Depdiknas, 2003 ; 3)
            Berdasarkan  teori  perkembangan  kognitif  Piaget,  anak  usia  Sekolah  Dasar  berada  pada  tahap  konkret  operasional,  dengan  ciri-ciri  sebagai  berikut: (1)Pola  berpikir  dalam  memahami  konsep  yang  abstrak  masih  terikat  pada   benda  konkret (2)Jika  diberikan  permasalahan  belum  mampu  memikirkan  segala  alternatif   pemecahannya (3)Pemahaman  terhadap  konsep  yang  berurutan  melalui  tahap  demi  tahap,  misal    pada  konsep  panjang,  luas,  volum,  berat,  dan  sebagainya.(4)Belum  mapu  menyelesaikan  masalah  yang  melibatkan  kombinasi   urutan  operasi  pada  masalah  yang  kompleks. (5)Mampu  mengelompokkan  objek  berdasarkan  kesamaan  sifat-sifat  tertentu,  
dapat  mengadakan  korespondensi  satu-satu  dan  dapat  berpikir  membalik.(6) Dapat  mengurutkan  unsur-unsur  atau  kejadian  (7) Dapat  memahami  ruang  dan  waktu. (8) Dapat  menunjukkan  pemikiran  yang  abstrak.
            Selain itu, menurut  Pujiati  (2004 ; 1)  yang  menyarikan  pada  Bruner  bahwa  untuk  memahami  pengetahuan  yang  baru,  maka  diperlukan  tahapan-tahapan  yang  runtut,  yaitu:  enactive,  ikonik,  dan  simbolik.  Tahap  enactive,  yaitu  tahap  belajar  dengan  memanipulasi  benda  atau  objek  yang  kongkret,  tahap  ikonik,  yaitu  tahap  belajar  dengan  menggunakan  gambar,  dan  tahap  simbolik,  yaitu  tahap  belajar  melalui  manipulasi  lambang  atau  simbul. (Penggunaan  Alat  Peraga  dalam  Pembelajaran  Berhitung  di  SD, Pujiati, 2004)
            Berdasarkan  pada  uraian  diatas,  siswa  pada  usia  sekolah  dasar  dalam  memahami  konsep-konsep  matematika masih  sangat  memerlukan  kegiatan-kegiatan  yang  berhubungan  dengan  benda  nyata  (pengalaman-pengalaman konkret) yang  dapat  diterima  akal  mereka.
            Dalam  penelitian  tindakan  kelas  ini,  peneliti  mencoba  mengetengahkan  salah  satu  bentuk  pembelajaran  aktif,  kreatif,   efektif,  dan  menyenangkan. Dalam  penyampaian  pembelajaran   ini   peneliti  menggunakan  media/alat  peraga  lidi  dalam  penjumlahan  bilangan  bulat  di  kelas  IV  SDN  1 Jungutan,  dengan  urutan  pembelajaranya   sebagai  berikut: Guru  membagi  siswa  menjadi  kelompok-kelompok  kecil  (berpasangan  dalam  satu  bangku), kemudian  lidi  kita  bagikan  kepada  masing-masing  kelompok  sebanyak  20  biji.  Guru   memperagakan    lidi  itu  untuk  menjumlah  dua  bilangan  bulat.  Siswa  diberi  lembar  tugas  untuk  dikerjakan  dengan  cara  memperagakan  lidi  itu  sebagai   alat  untuk  menjawab  lembar  tugas  tersebut,  sedangkan  guru  mengamati  proses  penggunaan  lidi  itu  untuk  menjawab  tugas  yang  telah  diberikan.  Setelah  waktu   yang  ditentukan  habis,  siswa  disuruh  memperagakan  hasil  kerjanya  di  depan  kelas,  begitu  seterusnya  sampai  siswa  trampil  menggunakan  lidi  itu  untuk  menjumlah  dua  bilangan  bulat.
Pada  akhir  pengajaran,  guru  mengadakan  tanya  jawab  agar  siswa  terampil  menggunakan   lidi  itu  sebagai  alat  bantu  untuk  menjumlah  dua  bilangan  bulat  sekaligus  sebagai  alat  evaluasi .

D.  PERUMUSAN   MASALAH  
Bertolak  dari  permasalahan  diatas,  maka  perumusan   masalah  pada  penelitian  ini  adalah  :  Bagaimana  penggunaan   dan  penerapan  media  lidi  dapat  meningkatkan  keterampilan  siswa  dalam  menjumlah  dua  bilangan  bulat  di kelas  IV  SD  ?

E.  TUJUAN   PENELITIAN
            Penulisan  penelitian  ini  bertujuan  agar  siswa  mampu  meningkatkan  keterampilan  penggunaan  media  lidi  dalam  menyelesaikan  soal-soal  yang  berhubungan  dengan  penjumlahan  bilangan  bulat.
F.  MANFAAT  PENELITIAN
            Hasil  penelitian  ini  diharapkan  dapat  memberikan  konstribusi  bagi  semua  pihak,  antara  lain:
1.  Memberikan  pembelajaran  secara  langsung  bagi  guru  tentang  pembelajaran  yang  menggunakan  media  lidi  guna  meningkatkan  pemahaman  siswa  terhadap  operasi  penjumlahan  bilangan  bulat,  sehingga  menambah  wawasan  dalam  melaksanakan  proses  pembelajaran  di  kelas.
2.     Meningkatkan  keterampilan  bagi  siswa  tentang  penggunaan  media  lidi  dalam  proses  pembelajaran  sehingga  siswa dapat berperan  aktif  dan  kreatif  terutama  pada  penjumlahan  bilangan  bulat.
3.      Memberikan  pengalaman  langsung  bagi  peneliti  dalam  menerapkan  pembelajaran  dengan  menggunakan  media  lidi  dalam  penjumlahan  bilangan  bulat  serta  memberikan  dorongan  untuk melaksanakan  penelitian  lagi  dengan  pembelajaran-pembelajaran  matematika  yang  lain.
4.      Hasil  penelitian  ini  dapat  digunakan   bagi  sekolah  untuk  meningkatkan  pemahaman  tentang  fungsi  penelitian  tindakan  kelas.   







G. KAJIAN PUSTAKA
G.1. Pembelajaran Matematika
Mengajarkan matematika tidaklah mudah, oleh karena itu tidak dibedakan antara matematika dan matematika sekolah. Maka dari itu perlu adanya desain khusus untuk mningkatkan kualitas belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran matematika.
“Matematika adalah (1) studi pola dan hubungan (study of patterns and relationships) dengan demikian masing-masing topik itu akan saling berjalinan satu dengan yang lain yang membentuknya, (2). Cara berpikir (way of thinking) yaitu memberikan strategi untuk mengatur, menganalisis dan mensintesa data atau semua yang ditemui dalam masalah sehari-hari, (3). Suatu seni (an art) yaitu ditandai dengan adanya urutan dan konsistensi internal, dan (4) sebagai bahasa (a language) dipergunakan secara hati-hati dan didefinisikan dalam term dan symbol yang akan meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi akan sains, keadaan kehidupan riil, dan matematika itu sendiri, serta (5) sebagai alat (a tool) yang dipergunakan oleh setiap orang dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Sedangkan mengenai pengertian matematika sekolah.”  (Reyt.,et al, 1998 :4 )

“Matematika sekolah adalah bagian atau unsur dari matematika yang dipilih antara lain dengan pertimbangan atau berorentasi pada pendidikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa matematika sekolah adalah matematika yang telah dipilah-pilah dan disesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa, serta digunakan sebagai salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi para siswa.” (Soedjadi  199 : 1).

Berdasarkan paparan tersebut di atas jelas terlihat bahwa konsep pembelajaran matematika harus diberikan sesuai dengan tingkat itelektual siswa. Hal ini didasarkan pada pemberian konsep harus tahap demi tahap guna untuk menyesuaikan taraf kemampuan intelektual siswa. Maka dari itu guru dituntut untuk menciptakan suasana pembelajaran yang sesuai dengan acuan yang berlaku sehingga proses pembelajaran khususnya pemblajaram matematika dijadikan suatu mata pelajaran yang tidak dianggap sulit oleh siswa. Dengan kata lain guru harus membangun konsep yang dapat menggugah siswa agar bisa menguatkan metode penerapan pembelajaran guna untuk menciptakan bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang menyenangkan dan tidak sulit untuk dipelajari.

“Dalam belajar aktif siswa harus melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mendengarkan, untuk bisa terlibat aktif para siswa itu harus terlibat dalam tugas yang perlu pemikiran tingkat tinggi seperti tugas analisis, sintesis, dan evaluasi. Oleh karena itu dalam rangka mewujudkan CBSA guru harus berusaha mencari metode mengajar yang dapat menyebabkan siswa aktif belajar. Pembelajaran matematika hendaknya menganut kebenaran konsistensi yang didasarkan kepada kebenaran-kebnaran terdahulu yang telah diterima, atau setiap struktur dalam matematika tidak boleh terdapat kontradiksi. (Bonwell dan Eison, 1991:1).

Dengan melihat paparan tersebut di atas maka penulis dapat memberikan penjelasan yaitu untuk menciftakan suasana pembelajaran yang aktif, maka siswa dalam proses pembelajaran tidak hanya mendengarkan, tetapi harus terjun dalam aktivitas pembelajaran yang disampaikan. Maka dari itu proses pembelajaran harus didesain sedemikian rupa agar supaya proses pembelajaran dapat diterima dengan cepat oleh siswa.
Adapun tujuan pembelajaran matematika disebutkan bahwa tujuan yang hendak dicapai dari pembelajaran matematika sekolah adalah:
Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari,  menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan matematika, dan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan  tepat dalam pemecahan masalah.   

G.2 Strategi Belajar Mengajar
               Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.       
         Menurut Newman dan Logan, dalam bukunya yang berjudul Strategy Policy and Central Management(1971 : 8), strategi dasar dari setiap usaha akan mencakup keempat hal sbb :
a.    Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil seperti apa yang harus dicapai dan menjadi sasaran usaha itu yang sesuai dengan aspirasi dan selera masyarakat.
b.    Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama manakah yang dipandang paling efektif guna mencapai sasaran tersebut.
c.    Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah apa saja yang akan ditempuh untuk mencapai sasaran tersebut.
d.   Mempertimbangkan dan menetapkan kriteria dan patokan ukuran yang harus dipergunakan untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan usaha tersebut.
               Melihat paparan tersebut di atas, maka strategi belajar mengajar dapat disimpulkan sebagi suatu proses upaya untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. Dengan demikian tidak lepas dari peran serta guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Guru harus mampu memberikan suatu metode yang cepat dan tepat sehingga dengan cepat siswa akan menangkap hasil pembelajaran yang disampaikan.


G.3  Media
Untuk  mengembangkan  pemahaman  dan  keterampilan  secara  optimal  dibutuhkan  pengetahuan  dan  pemahaman   tentang   media.  Pengetahuan  itu  meliputi:  1. Media  sebagai  alat  komunikasi  guna  lebih  mengefektifkan  proses  belajar  mengajar,  2.  Fungsi  media  dalam  rangka  mencapai  tujuan  pendidikan,  3. Tentang  proses-proses    mengajar, 4.  Hubungan  antara  metode  mengajar dan  media  pendidikan,  5.  Nilai  atau  manfaat  media  pendidikan  dalam  pengajaran,  6. Memilih  dan  menggunakan  pendidikan,  7. Berbagai    jenis  alat  dan  teknik  media  pendidikan,  8. Media  pendidikan  dalam  setiap  mata  pelajaran  dan  9. Usaha  inovasi  dalam  media  pendidikan  dan  lain-lain.  Dititik  dari  beberapa  pokok  yang  telah  di kemukakan  diatas,  jelaslah  bahwa  media  pendidikan  merupakan  dasar  yang  sangat  diperlukan  yang  bersifat  melengkapi  dan  merupakan  bagian  integral   demi  berhasilnya  proses  pendidikan  dan  usaha  pengajaran  di  sekolah.   (Hamalik,  1980 :   15-16).

G.4          Penelitian Tindakan Kelas
   Penelitian Tindakan Kelas [PTK] dibentuk dari 3 kata, yang memiliki pengertian sebagai berikut :
1.      Penelitian, menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2.      Tindakan, menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.
3.      Kelas, adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.
         Dari ketiga kata di atas dapat disimpulkan bahwa PTK merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.
   Pada intinya PTK bertujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar.
Secara lebih rinci, tujuan PTK antara lain sebagai berikut :
1.    Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah
2.        Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas
3.      Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan
4.        Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah, sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan.
         Agar peneliti memperoleh informasi atau kejelasan yang lebih baik tentang penelitian tindakan, perlu kiranya dipahami bersama prinsip-prinsip yang harus dipenuhi. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah :
1.      Kegiatan nyata dalam situasi rutin
Penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti tanpa mengubah situasi rutin, karena jika penelitian dilakukan dalam kondisi lain, hasilnya tidak dijamin dapat dilaksanakan lagi dalam situasi aslinya, atau dengan kata lain penelitiannya tidak dalam situasi wajar. Oleh karena itu, penelitian tindakan tidak perlu mengadakan waktu khusus, tidak mengubah jadwal yang sudah ada.
2.      Adanya kesadaran diri untuk memperbaiki kinerja
Didasarkan pada sebuah filosofi bahwa setiap manusia tidak suka dengan hal-hal yang statis, tetapi selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik. Peningkatan diri untuk hal yang lebih baik ini dilakukan terus menerus sampai tujuan tercapai, tetapi sifatnya hanya sementara, karena dilanjutkan lagi dengan keinginan untuk lebih baik yang datang susul menyusul.  Penelitian tindakan sifatnya bukan menyangkut hal-hal statis, tetapi dinamis, yaitu adanya perubahan. Penelitian tindakan bukan menyangkut materi atau topik bahasan itu sendiri, tetapi menyangkut penyajian topik pokok bahasan yang bersangkutan, yaitu strategi, pendekatan, metode, atau cara untuk memperoleh hasil melalui sebuah kegiatan uji coba atau eksperimen.
3.      SWOT sebagai dasar pijakan
PTK harus dimulai dengan analisis SWOT, sehingga dalam memilih sebuah tindakan peneliti harus mempertimbangkan apakah ada sesuatu di luar diri dan subyek tindakan yang kiranya dapat dimanfaatkan, juga sebaliknya berpikir tentang “bahaya” di luar diri dan subyeknya sehingga dapat mendatangkan resiko. Hal ini terkait dengan prinsip pertama, bahwa penelitian tindakan tidak boleh mengubah situasi asli, yang biasanya tidak mengudang resiko.
4.      Upaya empiris dan sistemik
Merupakan penerapan prinsip ketiga. Dengan telah dilaksanakannya analisis SWOT, berarti sudah mengikuti prinsip empiris (terkait dengan pengalaman) dan sistemik, berpijak pada unsur-unsur yang terkait dengan keseluruhan sistem yang terkait dengan objek yang sedang digarap. Pembelajaran adalah sebuah sistem, yang keterlaksanaannya didukung oleh unsur-unsur yang kait-mengait.


5.      Ikuti prinsip SMART dalam perencanaan
SMART merupakan akronim dari Spesific (khusus, tidak terlalu umum), Managable (dapat dikelola, dilaksanakan), Acceptable/Achievable (dapat diterima lingkungan, dapat dicapai, dijangkau), Realistic (operasional, tidak di luar jangkauan), dan Time bound (diikat oleh waktu, terencana).
Diantara unsur dalam SMART, unsur ketiga acceptable adalah yang paling terkait dengan subyek yang akan dikenai tindakan. Oleh karena itu, sebelum guru menentukan lebih lanjut tindakan yang akan diberikan, mereka harus diajak bicara. Tindakan yang akan diberikan oleh guru dan akan mereka lakukan harus disepakati dengan suka rela. Dengan demikian, guru dapat mengharapkan tindakan yang dilakukan oleh siswa dilandasi atas kesadaran dan kemauan penuh. Dampaknya adalah akan menghasilkan semangat atau kegairahan yang tinggi.
               Secara garis besar terdapat 4 tahapan yang lazim dilalui :
      1.    Menyusun rancangan tindakan (planning/perencanaan), dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan akan dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakn dan pihak yang mengamati proses yang dijalankan.
2.     Pelaksanaan Tindakan (acting), tahap ini merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas.
3.      Pengamatan (observing), yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Dalam tahap ini, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya.
4.      Refleksi (reflecting), merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan.  Dalam tahap ini, guru berusaha untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rancangan dan secar cermat mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
Jika penelitian tindakan dilakukan melalui beberapa siklus, maka dalam refleksi terakhir, peneliti menyampaikan rencana yang disarankan kepada peneliti lain apabila dia menghentikan kegiatannya, atau kepada diri sendiri apabila akan melanjutkan dalam kesempatan lain.
        Adapun persyaratan PTK itu sendiri adalah sebagai berikut :
1.     Harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam pembelajaran dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
2.     Menuntut dilakukannya pencermatan secara terus menerus, ohjektif, dan sistematis. Hasil pencermatan ini digunakan sebagai bahan untuk menentukan tindak lanjut yang harus diambil segera oleh peneliti
3.     Dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua siklus tindakan yang berurutan.
4.     Terjadi secara wajar, tidak mengubah aturan yang sudah ditentukan, dalam arti tidak mengubah jadwal yang berlaku.
5.     Harus betul-betul disadari oleh pemberi maupun pelakunya, sehingga pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengemukakan kembali apa yang dilakukan dibandingkan dengan rencana yang sudah dibuat sebelumnya.
6.   Harus benar-benar menunjukkan adanya tindakan yang dilakukan oleh sasaran tindakan, yaitu siswa yang sedang belajar.
   Objek PTK harus merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak. Unsur-unsur yang dapat dijadikan sasaran/objek PTK tersebut adalah : (1) siswa, (2) guru, (3) materi pelajaran,  (4) peralatan atau sarana pendidikan, meliputi peralatan, baik yang dimiliki oleh siswa secara perseorangan, peralatan yang disediakan oleh sekolah, ataupun peralatan yang disediakan dan digunakan di kelas dan di laboratorium, (5) hasil pembelajaran, (6) lingkungan, dan (7) pengelolaan, hal yang termasuk dalam kegiatan pengelolaan misalnya cara dan waktu mengelompokkan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan jadwal, pengaturan tempat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan milik siswa, dan lain-lain.
   Bagaikan mata uang yang memiliki dua sisi, begitu juga dengan penelitian tindakan kelas. Ada dua keuntungan nyata yang menjadi efek apabila seorang guru melaksanakan penelitian tindakan kelas. Pertama adalah dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa dan yang kedua, adalah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan profesionalitas guru. Dengan catatan, bila penelitian tindakan kelas dilakukan secara baik dan benar. PTK akan berhasil baik dan signifikan apabila sebelum melaksanakannya seorang guru harus sudah mengetahui konsep dasar tentang bagaimana melaksanakan PTK. Mulai dari pengertian PTK, tujuan, prinsip, model, persayaratan, dan sasaran/objek yang bisa dikenai tindakan.
H.  METODE PENELITIAN

H.1  Lokasi   Penelitian
      Penelitian  ini  dilaksanakan  di  kelas  IV SDN  1 Jungutan  I  kecamatan 
      Bebandem Kabupaten Karangasem

H.2   Waktu  Penelitian
       Penelitian  dilaksanakan  selama  dua  bulan  dari  tanggal  15 September  s.d           
24    Oktober 2011


H.3   Materi  Pembelajaran
 Untuk  menentukan  mata  pelajaran  dan  materi  pokok yang  akan    digunakan  dalam  penelitian  ini  dipilih  mata  pelajaran  matematika  dengan  materi  pokok  penjumlahan  bilangan  bulat  di  kelas  IV  semester  I.
Berdasarkan   kurikulum  2004,  materi   ini   dipilih    dengan    pertimbangan  
 sebagai  berikut :
      1.  Materi  ini  selalu  mengalami  kesulitan  di  kelas  kelas  V  dan VI.
      2.  Sekolah  mempunyai  buku  paket  yang  relevan
      Materi  pembelajaran  ini  dilaksanakan   dalam  waktu  3  pertemuan  dengan   setiap    pertemuan  2 x 40  menit,   dan   masing-masing   pertemuan   ditutup  dengan  tes  tertulis.

H.4   Pelaksanaan  Penelitian
       1.  Siklus  I
            a.  Rancangan  Pembelajaran
                 Sebelum   pelaksanaan   pembelajaran    peneliti    telah    menyiapkan/  
                 menyusun  perangkat  pembelajaran  antara  lain:
1).  Silabus,  yang  memuat  standar  kompetensi,  kompetensi  dasar,  hasil  belajar,  indicator,  pengalaman  belajar,  alokasi  waktu,  sumber/ alat/ bahan  belajar  dan  penilaian.
2).  Rencana  pembelajaran,  yang  memuat  mata  pelajaran,  kelas/
                        semester,  materi  pokok,  alokasi  waktu,  kompetensi  dasar,  langkah- langkah  pembelajaran,  sarana,  sumber,  bahan  belajar  dan  penilaian.
3).  Lembar  penilaian  proses,  lembar  pengamatan   dan  lembar  soal  tes.
4).  Lidi  sejumlah  220  buah.



            b.  Pelaksanaan  Pembelajaran
                 1).  Kegiatan  awal  meliputi :
                        a).  Guru  mengucapkan  salam  di  depan  kelas.
                        b).  Guru  membagi  siswa  menjadi  kelompok-kelompok  kecil   (berpasangan)      
      c).  Guru  membagi  lidi  kepada  tiap-tiap  kelompok  sebanyak  20   buah.
                      d). Guru  mengadakan  tanya  jawab  tentang  penjumlahan    bilangan  cacah  dengan  tujuan  untuk  merangsang  siswa  agar  termotivasi.
                
 2).    Kegiatan  inti  meliputi :
  a). Guru  menginfomasikan  kepada  siswa  bahwa  masing-masing   harus  memengang  10  lidi.
                          b).   Guru  dan  siswa  mengadakan  kesepakatan,  lidi  yang  
    dipegang  oleh  siswa  yang  duduk  di  sebelah  kanan adalah  positif  dan  di  sebelah  kiri  adalah  negatif.
                          c).   Guru  memberi  contoh  cara  menjumlah  bilangan  bulat  
    dengan  menggunakan  lidi.
    Misalnya :
4        +  (  - 7  )  =  .  .  .  .
                               Langkah-langkah  penggunaan :
(a). Siswa  yang  duduk  disebelah  kanan,  meletakkan  4  
      lidi  di  atas  mejanya.
(b). Siswa  yang  duduk  disebelah  kiri,  meletakkan  7  lidi    di   atas  mejanya.
(c)    Kemudian  kedua  lidi  itu  digabung  menjadi  satu,   
sehingga  posisinya  menjadi :



I  I  I  I                                                                                                                                               




I  I  I  I     
 


                                                   Lidi  yang  diambil  dari  siswa  yang  duduk  di      
                                                   sebelah   kanan  (  lidi  yang  menunjuk  bilangan
                                                   positif )


                                I I I             Lidi  yang  diambil  dari  siswa  yang  duduk  di      
                                                   sebelah   kiri  (  lidi  yang  menunjuk  bilangan
                                                   negatif )
                                                                                                                                                     
(d). Lidi  yang  tidak  punya  pasangan  (yang  berada  diluar kotak)  sebanyak  3  lidi  dari  siswa disebelah kiri.
 (e). Jadi  4 + (-7)  =  -3 

 3).  Kegiatan  Akhir  :
                  a). Pengecekan  keterampilan  siswa,  tentang  penggunaan  lidi  dalam  menjumlah  bilangan  bulat  dengan  cara  tanya  jawab.
                        b).  Pemberian  tugas  (  PR  terdiri  dari  5  soal  )

            c.  Observasi
                 Aktivitas  observasi  dilakukan  ketika  peneliti  melakukan  pembelajaran, Observer  melakukan  observasi  untuk  melihat  seberapa  jauh  keefektifan  perencanaan,  pelaksanaan,  dan  evaluasi  pembelajaran  ketika  diterapkan.     

            d.  Evaluasi
                 1). Evaluasi  proses,  pada  saat  siswa  menggunakan  lidi  dalam  
                      penjumlahan  bilangan  bulat.
                 2). Evaluasi  tertulis,  pada  saat  siswa  mengerjakan  lembar  tes.

             e.  Refleksi
                  Data-data  dari  observasi  dan  evaluasi  dikumpulkan,  kemudian   
                  berdasarkan  hasil  ini  peneliti  melakukan  refleksi  diri  tentang 
                  pembelajaran  yang  telah  dilakukan.  Berdasarkan  hasil  refleksi  ini ,  
                  peneliti  akan  tahu  kelebihan  dan  kekurangan  dari  skenario  
                  pembelajaran  yang  telah  direncanakan  dan  dilaksanakan.
                 Setelah  mengetahui  kekurangan  dari  skenario  pembelajaran  pada  siklus ini,  peneliti  merencanakan  perbaikan  untuk  dilaksanakan  pada  siklus berikutnya,  sampai  peneliti  menemukan  hasil  yang  terbaik  sesuai dengan  skenario  pembelajaran  yang  telah  direncanakan.





       2.  Siklus  II
            a.  Rancangan  Pembelajaran
                 Sebelum  pelaksanaan  pembelajaran  peneliti  telah  menyiapkan/ 
                 menyusun  perangkat  pembelajaran  antara  lain:
                1). Silabus,  yang   memuat   standar   kompetensi,  kompetensi    dasar,     
    hasil  belajar,  indikator,  pengalaman  belajar,  alokasi  waktu,   sumber/ alat bahan  belajar  dan  penilaian.
               2). Rencana  pembelajaran,  yang  memuat  mata  pelajaran,  kelas/
semester,  materi  pokok,  alokasi  waktu,  kompetensi  dasar,  langkah-langkah  pembelajaran,  sarana,  sumber,  bahan  belajar  dan  penilaian.
                 3). Lembar  penilaian  proses,  lembar  pengamatan   dan  lembar  soal     tes.
                4). Lidi   sejumlah  220  buah,   yang   berwarna   merah  110  buah  dan       
    yang   tidak   berwarna  110  buah.

            b.  Pelaksanaan  Pembelajaran
                 1).  Kegiatan  awal  meliputi :
                       a).  Guru  mengucapkan  salam  di  depan  kelas.
                       b).  Mengerjakan  tugas  PR.
     c). Guru  membagi  siswa  menjadi  kelompok-kelompok  kecil     (berpasangan)
                       d).  Guru  membagi  lidi  kepada  tiap-tiap  kelompok  sebanyak  10    buah  berwarna  merah  dan  10  buah  tidak  berwarna.
                       e). Guru  mengadakan  tanya  jawab  tentang  penjumlahan  bilangan  bulat  dengan  tujuan  untuk  merangsang  siswa  agar  termotivasi.    
2.  Kegiatan  inti  meliputi :
                     a. Guru   menginfomasikan   kepada   siswa   bahwa   masing-masing     
                       kelompok harus  memengang  10  lidi  berwarna  merah  dan  10    lidi  tidak  berwarna.
                      b).Guru  dan  siswa  mengadakan  kesepakatan,  lidi  yang   berwarna          merah adalah positif  dan  lidi  yang  tidak  berwarna adalah  negatif.
                   c). Guru  memberi  contoh  cara  menjumlah  bilangan  bulat   dengan   menggunakan  lidi.
                        Misalnya :
4        +  (  - 7  )  =  .  .  .  .
                       Langkah-langkah  penggunaan :
                       (a).  Siswa   yang  memegang   lidi   berwarna   merah,   meletakkan  
                             4  lidi  di  atas  meja.
                       (b).Siswa  yang  memegang  lidi  yang  tidak  berwarna,    meletakkan  7  lidi  di atas  mejanya.   
                        (c). Kemudian  kedua  lidi  itu  digabung  menjadi  satu,    sehingga   
                              posisinya  menjadi :





I  I  I  I                                                                                                                                                
(lidi merah)



I  I  I  I     
 
                                                   Lidi  yang  berwarna  merah  sebanyak  4  buah.
                                                   (  lidi  yang  menunjuk  bilangan  positif )
                                                  


                                I I I             Lidi  yang  tidak  berwarna  sebanyak  7  buah.
                                                   (  lidi  yang  menunjuk  bilangan  negatif )
                                                  
                                                                                                                             (d). Lidi  yang  tidak  punya  pasangan  (yang  berada  diluar kotak)  
         sebanyak  3  lidi  yang  tidak  berwarna (negatif).
                       (e).  Jadi     4 + (-7)  =  -3 

b.      Kegiatan  Akhir  :
1). Pengecekan  keterampilan  siswa,  tentang  penggunaan  lidi dalam  menjumlah  bilangan  bulat  dengan  cara  tanya  jawab.
2).Pemberian  tugas  (  PR  terdiri  dari  5  soal  )

            c.  Observasi
                 Aktivitas  observasi  dilakukan  ketika  peneliti  melakukan  pembelajaran  pada  siklus  I,  Observer  melakukan  observasi  untuk  melihat  seberapa  jauh  keefektifan   perencanaan,  pelaksanaan,  dan  evaluasi  pembelajaran  ketika  diterapkan  pada  siklus  II.     
               



            d.  Evaluasi
                 1). Evaluasi  proses,  pada  saat  siswa  menggunakan  lidi  dalam  
                      penjumlahan  bilangan  bulat.
                 2). Evaluasi  tertulis,  pada  saat  siswa  mengerjakan  lembar  tes.

             e.  Refleksi
                  Data-data  dari  observasi  dan  evaluasi  pada  siklus  II dikumpulkan, 
                  kemudian berdasarkan  hasil  ini  peneliti  melakukan  refleksi  diri  
                  tentang    pembelajaran  yang  telah  dilakukan.  Berdasarkan  hasil  
                  refleksi  ini,  peneliti  akan  tahu  kelebihan  dan  kekurangan  dari 
                  skenario  pembelajaran  yang  telah  direncanakan  dan  dilaksanakan   pada  silkus  II.  Setelah  mengetahui  kekurangan  dari  skenario  pembelajaran  pada  siklus  ini,  peneliti  merencanakan  perbaikan  untuk  dilaksanakan  pada  siklus  III,  sampai  peneliti  menemukan  hasil  yang  terbaik  sesuai  dengan  skenario  pembelajaran  yang  telah  direncanakan.
             
       3.  Siklus  III
            a.  Rancangan  Pembelajaran
                 Sebelum  pelaksanaan  pembelajaran  peneliti  telah  menyiapkan / 
                 menyusun  perangkat  pembelajaran  antara  lain:
1).Silabus,  yang  memuat  standar  kompetensi,  kompetensi  dasar,  hasil  belajar,  indikator,  pengalaman  belajar,  alokasi  waktu,  sumber/ alat/ bahan  belajar  dan  penilaian.
2).Rencana  pembelajaran,  yang  memuat  mata  pelajaran,  kelas/
    semester,  materi  pokok,  alokasi  waktu,  kompetensi  dasar,  langkah-langkah  pembelajaran,  sarana,  sumber,  bahan  belajar  dan  penilaian.
3).Lembar   penilaian   proses,   lembar   pengamatan   dan  lembar   soal  tes.
          4)..Lidi  sejumlah  420  buah,  210  lidi  berwarna  merah   dan   210   lidi   tidak  berwarna  .
            b.  Pelaksanaan  Pembelajaran
                 1).  Kegiatan  awal  meliputi :
                        a).  Guru  mengucapkan  salam  di  depan  kelas.
                        b).  Mengerjakan  tugas  PR.
                        c).  Guru  membagi  lidi  kepada  tiap-tiap  anak  sebanyak  10   lidi
                             berwarna  merah  dan  10  lidi  tidak  berwarna.
                       d).Guru  mengadakan  tanya  jawab  tentang  penjumlahan  bilangan 
                            bulat  dengan  tujuan  untuk  mengetahui  kemampuan  siswa  
                            sebelum  mendapat  pembelajaran. 
                
b.  Kegiatan  inti  meliputi :
     1). Guru    menginfomasikan   kepada    siswa    bahwa,   lidi     yang  
          berwarna   merah  adalah  positif  dan  lidi  yang   tidak  berwarna
          adalah  negatif.
                      2). Guru  memberi  contoh  cara  menjumlah  bilangan  bulat    dengan   menggunakan  lidi.
                           Misalnya :
4        +  (  - 7  )  =  .  .  .  .
                          Langkah-langkah  penggunaan :
                            a).  Siswa    meletakkan  4 lidi   berwarna  merah  diatas mejanya
                            b). Siswa  meletakkan  7  lidi  yang  tidak  berwarna, di atas   mejanya.   
                            c).  Kemudian  kedua  lidi  itu  digabung  menjadi  satu,   
                                  sehingga  posisinya  menjadi :



I  I  I  I                                                                                                                                                
(lidi merah)




I  I  I  I     
 


                                                   Lidi  yang  berwarna  merah  sebanyak  4  buah.
                                                   (  lidi  yang  menunjuk  bilangan  positif )
                                                  


                                I I I             Lidi  yang  tidak  berwarna  sebanyak  7  buah.
                                                   (  lidi  yang  menunjuk  bilangan  negatif )
                                                  
                                                                                                                                                                   d).  Lidi  yang  tidak  punya  pasangan  adalah  hasilnya  (yang    
                                 berada  diluar kotak)  sebanyak  3  lidi  yang  tidak  berwarna  (negatif).
                          e).   Jadi    4 + (-7)  =  -3 

                  c. Kegiatan  Akhir  :
         1). Pengecekan  keterampilan  siswa,  tentang  penggunaan  lidi   dalam  penjumlahan   bilangan  bulat  dengan  cara  tanya  jawab.
                      2). Pemberian  tugas  (  PR  terdiri  dari  5  soal  )

            c.  Observasi
                 Aktivitas  observasi  dilakukan  ketika  peneliti  melakukan  pembelajaran, Observer  melakukan  observasi  untuk  melihat  seberapa  jauh  keefektifan perencanaan,  pelaksanaan,  dan  evaluasi  pembelajaran  ketika   diterapkan  pada  siklus  III.     
            d.  Evaluasi
                 1.  Evaluasi  proses,  pada  saat  siswa  menggunakan  lidi  dalam  
                      penjumlahan  bilangan  bulat.
                 2.  Evaluasi  tertulis,  pada  saat  siswa  mengerjakan  lembar  tes.
             e.  Refleksi
                 Data-data  dari  observasi  dan  evaluasi  pada  siklus II dikumpulkan,  kemudian  berdasarkan  hasil  ini  peneliti  melakukan  refleksi  diri   tentang  pembelajaran  yang telah  dilakukan  pada  siklus  III.  Berdasarkan  hasil  refleksi   pada  siklus  ini peneliti  akan  tahu  kelebihan  dan  kekurangan  dari  skenario  pembelajaran  yang  telah  direncanakan  dan  dilaksanakan  pada  siklus  III. Setelah  mengetahui  kekurangan  dari  skenario  pembelajaran  pada  siklus     ini,  peneliti  merencanakan perbaikan  untuk  dilaksanakan  pada  siklus  III,  sampai  peneliti  menemukan  hasil  yang  terbaik  sesuai   dengan  skenario   pembelajaran  yang  telah  direncanakan.                  


I.      JADWAL PENELITIAN
       Penelitian  dilaksanakan  selama  dua  bulan  dari  tanggal  15 September  s.d          
25    Oktober 2011 bertempat di SD N 1 Jungutan.
J.  BIAYA PENELITIAN
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………
    




K. PERSONALIA PENELITIAN
1.Judul Penelitian
Penggunaan   Media   Lidi  Untuk   Meningkatkan Keterampilan Siswa Pada Penjumlahan Bilangan Bulat
 di  Kelas  IV  SDN  1 Jungutan
2. Identitas Peneliti
   a. Nama Lengkap
   b. Jenis Kelamin
   c. Pangkat/gol/NIP
   d. Asal Sekolah
   e. Alamat Kantor
       dan No.Telp.
   f. Alamat Rumah
       dan No. Telp.

Ida Ayu Putu Dipeningrat,S.Pd.
Perempuan
Pembina / IV.A / 197503081997032003
SDN  1 Jungutan
Jl. Telaga Tista, Jungutan

Dsn Jungutan, Desa Jungutan


g. Lama Penelitian

2 bulan  (  September s.d  Oktober  2011  )


   h. Biaya yang    diperlukan

-

L.  DAFTAR PUSTAKA

Djoko  Moesono &  Sujono,  1998.  Matematika  4, Jakarta:  Depdibud.

Depdiknas, 2004.  Pedoman  Pengembangan  Silabus,  Jakarta.

Depdiknas, 2003. Pengembangan  Silabus  dan  Penilaian  Mata  Pelajaran  Matematika,  Jakarta.

Pujiati,  2004.  Penggunaan  Alat  Peraga  dalam  Pembelajaran  Berhitung  di  SD, Jogjakarta: PPPG  JOGJAKARTA.

Depdiknas,  2006.  Manajemen  Berbasis  Sekolah,  Jakarta.

Oemar  Hamalik, 1980. Media  Pendidikan,  Jakarta

Elly E,  1996.  Metoda  Pengajaran  Matematika  di  Sekolah  Dasar, Jogjakarta: PPPG  JOGJAKARTA.

Karim Muchtar A, 1999.  Metodologi  Pembelajaran,  Jakarta.
                  


M.  LAMPIRAN – LAMPIRAN
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………